Jineman Uler Kambang Lengkap Terjemahan, dan Nilai Agung

- Penulis Berita

Rabu, 26 November 2025 - 17:57

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jineman Uler Kambang, Lirik, Terjemahan, dan Kupasan Tuntas Karya Ki Narto Sabdho

ki narto sabdo dan jineman uler kambang ciptaan lirik


Lirik Jineman Uler Kambang karya Ki Narto Sabdho adalah salah satu tetembangan Jawa yang sering hadir dalam pentas wayang, sindhenan, dan upacara kebudayaan. Artikel ini menyajikan analisis lengkap: lirik utuh, terjemahan naratif ke Bahasa Indonesia, tafsir baris demi baris dari perspektif bahasa dan simbolisme Jawa, nilai-nilai sosial-spiritual yang terkandung, serta rekomendasi praktis untuk pelestarian seni budaya, pendidikan karakter, dan penggunaan dalam ritual komunitas. Penyajian dibuat orisinal dan siap dibagikan kepada audiens akademis maupun umum.


Sekilas tentang pencipta dan konteks kultural

Ki Narto Sabdho (Soenarto, 1925–1985) dikenang sebagai maestro dalang dan komponis karawitan Jawa yang menghasilkan banyak gending dan tetembangan yang menjadi bagian repertoar wayang dan upacara adat. Jineman Uler Kambang termasuk karya yang sering dipakai dalam konteks pertunjukan budaya—baik sebagai pengiring sindhenan maupun sebagai tetembangan doa dan harapan dalam acara kolektif. Bahasa yang dipakai bercampur antara krama alus dan ragam lisan, penuh ungkapan simbolik khas tradisi Jawa yang memadukan spiritualitas dan nilai sosial.

Sumber latar yang umum digunakan dalam kajian terhadap karya-karya Ki Narto meliputi biografi dalang, katalog repertoar gamelan, dan tulisan tentang gamelan serta wayang. Untuk pembaca yang ingin menggali lebih jauh, sumber seperti ensiklopedia wayang, arsip lokal, dan wawancara sinden/penabuh memberi konteks historis dan kinerja yang kaya.


Lirik

Tirto tirto wijiling angkoso
sayuk rukun rukun karo kacane
Jo lali lo mas kowe
gotong royong nyambut gawe

Romo nyenyuwuno mrih kasembadaning sedyo
kinclong alah alah kinclong
kinclong guwayane Mubyar murup mencorong katon tejane

Gones yo romo ramane dewe
kawi limo putrane dahyang durno
Poncosilo dasaring nagri utomo

Ala ora pati ayu nanging nggregetake
yo la yo mas yo la yo mas

Man eman man eman romo
Lir puspito wernaning kusumeng puro
Brambang mas sak sen limo berjuang labuh negoro
Brambang mas sak sen telu berjuang dimen bersatu yo la yo mas
Ora butuh godhong kayu butuhku tentrem rahayu
Ora butuh mas kae kae butuhku tentrem atine


Terjemahan naratif ke Bahasa Indonesia

Air yang mengalir, mengitari ruang; bersama, rukun dengan teman-teman; jangan lupa, wahai kawan, bekerja bersamasama melalui gotong-royong. Bapa memohon agar segala harapan tercapai — bersinar, memancar; sinarnya meledak, menyala, menampakkan yang nyata. Pergilah, wahai bapa, pulanglah ke asalmu; ada lima putra yang menanggung tugas berat. Pancasila menjadi dasar negeri yang utama. Bukan terlalu cantik, namun menggetarkan semangat. Sungguh sayang, sungguh sayang, wahai bapak; seperti bunga yang warna-warninya memukau. Sekelompok massa berjuang demi negeri, berkumpul dalam sejumlah kecil untuk berjuang bersatu. Aku tak membutuhkan daun atau kayu, aku tak membutuhkan emas berkilau; yang kucari adalah ketenangan dan keselamatan—tentrem rahayu serta kedamaian batin.

Catatan: terjemahan ini memprioritaskan nuansa dan pesan simbolik ketimbang padanan kata-per-kata yang kaku.


Tafsir baris demi baris : aspek bahasa, simbol, dan relevansi nilai

1. “Tirto tirto wijiling angkoso”
Makna: “Tirto” (air) diulang untuk memberi ritme; “wijiling angkoso” menggambarkan peredaran atau melingkari ruang.
Tafsir simbolik: Air sebagai simbol kehidupan, kebersihan, dan kesinambungan. Pengulangan menekankan ritme kosmis dan kesinambungan sosial. Dalam kosmologi Jawa, air juga berhubungan dengan berkah, kesuburan, dan pemeliharaan tatanan (tata).
Implikasi praktis: Bait ini cocok diintegrasikan ke program pendidikan lingkungan—menghubungkan kearifan lokal dengan isu konservasi air.

2. “sayuk rukun rukun karo kacane”
Makna: Ajakan hidup rukun bersama sahabat/komunitas.
Tafsir: Rukun adalah nilai inti dalam organisasi sosial Jawa—prasyarat untuk keharmonisan. “Kacane” menegaskan pentingnya hubungan antarindividu.
Implikasi praktis: Bisa dipakai sebagai pesan pembuka dalam kegiatan gotong-royong desa, sekolah, atau acara kebudayaan.

3. “Jo lali lo mas kowe / gotong royong nyambut gawe”
Makna & tafsir: Perintah moral agar tidak melupakan tradisi gotong-royong. Nuansa akrab (“lo mas”) membuat pesan menjadi personal.
Implikasi praktis: Bagus untuk materi pembelajaran karakter di sekolah, kampanye inklusi sosial, atau intervensi komunitas.

4. “Romo nyenyuwuno mrih kasembadaning sedyo”
Makna: Doa seorang bapak untuk tercapainya harapan kolektif.
Tafsir: Figur patriarkal sebagai perantara doa—simbol pewarisan nilai dan tanggung jawab. Menunjukkan dimensi ritual dan doa kolektif dalam budaya Jawa.
Implikasi praktis: Bait ini sering relevan dalam acara adat, kenduri, atau pembukaan kegiatan komunitas.

5. “kinclong… Mubyar murup mencorong katon tejane”
Makna & tafsir: Gambaran pencerahan atau keberhasilan yang tampak nyata. Pilihan kata memperkuat intensitas—dari ‘kinclong’ (bercahaya) hingga ‘mencorong’ (memancar terang).
Implikasi praktis: Bisa dipakai untuk menandai klimaks pertunjukan atau momen perayaan dalam acara kebudayaan.

6. “Gones yo romo ramane dewe … kawi limo putrane dahyang durno”
Makna: Ajakan untuk kembali/menyerahkan tanggung jawab kepada generasi penerus—lima putra yang mempunyai tugas pelik.
Tafsir: Metafora pewarisan tugas dan ujian generasi; angka lima dapat diasosiasikan ke Pancasila (lihat bait berikut). Menunjukkan kesinambungan sosial dan politik antar generasi.
Implikasi praktis: Relevan untuk diskusi tentang pendidikan kewarganegaraan dan peran keluarga dalam transmisi nilai.

7. “Poncosilo dasaring nagri utomo”
Makna: Penyebutan Pancasila sebagai dasar negara yang utama.
Tafsir: Menunjukkan sinkretisme—bagaimana tetembangan tradisional menyerap konsep kebangsaan modern. Ini menjadikan lagu bukan hanya ritual tapi juga medium pembelajaran nilai kebangsaan.
Implikasi praktis: Dapat diadaptasi dalam momen kebangsaan dengan penjelasan kontekstual agar audiens memahami keterpautan tradisi dan nilai modern.

8. “Ala ora pati ayu nanging nggregetake”
Makna & tafsir: Penegasan bahwa nilai atau karya yang sederhana tetapi menyentuh dapat lebih bermakna daripada keindahan semata. Filosofi estetika Jawa yang menempatkan fungsi moral-emosional di atas kemewahan.
Implikasi praktis: Pesan ini penting dalam program pelestarian budaya—mengajak menghargai karya tradisi walau tampak sederhana.

9. Bait akhir (“Man eman… tentrem atine”)
Makna & tafsir: Ungkapan sayang dan penegasan tujuan perjuangan—bukan untuk materi (daun, emas), melainkan untuk ketenangan, keselamatan, dan kedamaian batin. ‘Brambang mas’ dan struktur angka menunjukkan perjuangan kolektif yang berlapis. Ini mengafirmasi nilai non-material sebagai tujuan utama.
Implikasi praktis: Bait ini ideal dipakai sebagai doa penutup atau refleksi dalam acara komunitas, menekankan bahwa tujuan sosial bukan semata kesejahteraan material tetapi juga kemapanan rohani.


Nilai-nilai didaktik dan etis yang dominan

  • Gotong-royong & solidaritas: Pesan berulang tentang kerja sama sebagai landasan hidup kolektif.
  • Keseimbangan material–spiritual: Penolakan terhadap materialisme; penekanan pada tentrem (ketenteraman) dan rahayu (keselamatan).
  • Pewarisan generasi & tanggung jawab: Keterikatan antara orang tua dan anak sebagai pemikul tugas sosial.
  • Sinkretisme tradisi–nasional: Integrasi nilai Pancasila menegaskan kemampuan tradisi menyerap gagasan modern tanpa kehilangan identitas.

Aplikasi praktis — cara menggunakan tetembangan ini hari ini

  1. Pelestarian pertunjukan: Tempatkan Jineman Uler Kambang sebagai pembuka atau penutup dalam pagelaran wayang; sertakan penjelasan singkat tentang makna bait untuk audiens non-Jawa.
  2. Pendidikan karakter: Gunakan lirik sebagai bahan diskusi di sekolah: pembelajaran tentang gotong-royong, kepemimpinan, dan prioritas nilai. Kegiatan: nyanyian bersama → terjemahan → diskusi kelompok.
  3. Adaptasi ritual/adat: Pilih bait doa (contoh: “Romo nyenyuwuno…”) untuk dibacakan saat kenduri atau pembukaan acara adat.
  4. Kampanye lingkungan: Bait tentang air sebagai entry point kampanye konservasi air berbasis kearifan lokal.
  5. Momen kebangsaan: Dengan konteks yang tepat, bait tentang Pancasila dapat dimasukkan ke program pendidikan kewarganegaraan.

Panduan

Agar karya yang memuat analisis ini lolos pemeriksaan orisinalitas dan memberikan nilai tambah akademis serta kultural:

  • Tulis ulang tafsir dengan bukti lapangan: Sertakan kutipan wawancara dengan sinden, dalang, atau penabuh gamelan yang menampilkan pemaknaan lokal.
  • Gunakan kutipan pendek dengan atribusi: Hindari menyalin panjang dari atlas atau artikel lirik; bila perlu kutip maksimal 25 kata dan cantumkan sumber.
  • Tambahkan data kontekstual: Foto acara, tanggal pertunjukan, latar komunitas menambah orisinalitas.
  • Sertakan catatan metodologis: Jelaskan bagaimana tafsir dibuat (analisis linguistik, rujukan teks, wawancara). Ini mengurangi risiko tuduhan plagiarisme dan meningkatkan kredibilitas.
  • Periksa dengan alat orisinalitas: Gunakan software plagiarism checker sebagai langkah final, namun jangan jadikan itu sebagai satu-satunya tolok ukur—konteks budaya dan sumber lisan juga penting.

Catatan etis: Saya bukan penasihat hukum; jika Anda memerlukan penilaian legal tentang hak cipta atau atribusi, konsultasikan dengan ahli hukum kekayaan intelektual.


Penutup

Jineman Uler Kambang adalah contoh bagaimana tetembangan tradisi mampu menampung nilai sosial, spiritual, dan bahkan gagasan kenegaraan modern. Karya Ki Narto Sabdho ini tidak sekadar teks musik; ia menjadi medium pendidikan nilai, sarana ritual, dan alat pelestarian identitas budaya. Untuk praktisi budaya, pendidik, dan penyelenggara acara, memanfaatkan tetembangan ini dengan konteks yang jelas—disertai terjemahan dan penjelasan—akan membuat pesan-pesan lama tetap hidup dan relevan bagi generasi sekarang.

Berita Terkait

Apa Saja Jenis Reklame? Memahami Fungsi dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Dhandanggula ‘Bangsa Hywa Mukti’: Nasionalisme Humanis dalam Balutan Macapat Jawa
Eksplorasi Warisan Nusantara: Mengenal Ragam Pesona Wisata Budaya Indonesia
Antropolinguistik: Memahami Bahasa sebagai Cermin Jiwa Budaya
Budaya Organisasi, Keberagaman, dan Digital: Kompas Moral Manusia di Era Global
Tepa Selira: Rahasia Filosofi Hidup Jawa Kuno untuk Hidup Penuh Empati di Era Modern
Unggah-Ungguh: Etika Kesusilaan Jawa dan 7 Kunci Tatakrama untuk Kehidupan Modern
Sinom Rambangan Bahasa Jawa Lengkap: Teks, Arti, dan Filosofi

Berita Terkait

Rabu, 26 November 2025 - 17:57

Jineman Uler Kambang Lengkap Terjemahan, dan Nilai Agung

Senin, 3 November 2025 - 06:35

Apa Saja Jenis Reklame? Memahami Fungsi dan Contohnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Senin, 3 November 2025 - 05:56

Dhandanggula ‘Bangsa Hywa Mukti’: Nasionalisme Humanis dalam Balutan Macapat Jawa

Senin, 3 November 2025 - 04:21

Eksplorasi Warisan Nusantara: Mengenal Ragam Pesona Wisata Budaya Indonesia

Minggu, 2 November 2025 - 19:10

Budaya Organisasi, Keberagaman, dan Digital: Kompas Moral Manusia di Era Global

Rabu, 22 Oktober 2025 - 18:23

Tepa Selira: Rahasia Filosofi Hidup Jawa Kuno untuk Hidup Penuh Empati di Era Modern

Rabu, 22 Oktober 2025 - 18:22

Unggah-Ungguh: Etika Kesusilaan Jawa dan 7 Kunci Tatakrama untuk Kehidupan Modern

Rabu, 22 Oktober 2025 - 17:42

Sinom Rambangan Bahasa Jawa Lengkap: Teks, Arti, dan Filosofi

Berita Terbaru

Seni dan Budaya

Jineman Uler Kambang Lengkap Terjemahan, dan Nilai Agung

Rabu, 26 Nov 2025 - 17:57