Dhandanggula ‘Bangsa Hywa Mukti’: Nasionalisme Humanis dalam Balutan Macapat Jawa
Di tengah modernitas yang terus berpacu, warisan budaya Jawa, seperti Tembang Macapat, masih memiliki relevansi mendalam untuk menuntun kita pada nilai-nilai luhur. Salah satunya adalah tembang Dhandanggula, yang dengan wataknya yang manis, luwes, dan agung, seringkali menjadi media penyampai nasihat dan harapan. Kali ini, kita akan menyelami sebuah tembang Dhandanggula orisinal, berjudul **”Bangsa Hywa Mukti”**, yang secara khusus merangkai pesan persatuan, moralitas, dan nasionalisme humanis khas Jawa.
Tembang ini tidak hanya memenuhi kaidah paugeran (aturan) guru lagu dan guru wilangan Dhandanggula, tetapi juga mengemban makna filosofis yang kaya, mengajak kita merenungi arti sejati kemerdekaan dan kemuliaan bangsa.
🎶 **Tembang Dhandanggula: “Bangsa Hywa Mukti”**
1. Panjang rahayu bangsa hywa mukti (10 i) 2. Saking manah tresna tumrap bangsa (10 a) 3. Sinareng rasa rukun rakyate (8 Ă©) 4. Gegayuhan nyawiji (7 u) 5. Tata titi kawruh lan budi (9 i) 6. Teguh anggayuh cita (7 a) 7. Lan panggalih suci (6 u) 8. Nresnani sesama bangsa (8 a) 9. Pinuju jaman anyar, ngugemi janji (12 i) 10. Mardika lan prasaja (7 a)Membedah Makna: Nasionalisme dari Hati Nurani
Tembang ini merangkum esensi nasionalisme yang berakar pada batin dan perilaku luhur, jauh dari sekadar semangat semu. Setiap gatra (baris) mengalirkan makna yang saling melengkapi.
1. Harapan Luhur dan Cinta Sejati (Gatra 1-3)
“Panjang rahayu bangsa hywa mukti” membuka tembang dengan doa dan harapan universal: agar bangsa senantiasa selamat (rahayu) dan mulia (mukti). Makna ‘hywa mukti’ di sini bukan sekadar kemakmuran materi, melainkan juga kemuliaan batin, kedamaian spiritual, dan kebahagiaan sejati. Kamakmuran yang seimbang antara lahir dan batin.
Harapan luhur ini kemudian ditegaskan dengan pondasi utamanya: “Saking manah tresna tumrap bangsa.” Cinta tanah air sejati berasal dari hati (manah) yang tulus, bukan hanya dari ucapan atau simbol. Nasionalisme adalah getaran rasa cinta yang mendalam terhadap bangsa dan sesama warga negara, yang kemudian terwujud dalam kerukunan: “Sinareng rasa rukun rakyate.” Bangsa yang kuat dibangun di atas fondasi kerukunan rakyatnya; inilah kunci kebaikan dan daya hidup bangsa.
2. Keseimbangan Akal dan Budi dalam Perjuangan (Gatra 4-7)
Cita-cita bangsa takkan tercapai tanpa kesatuan gerak dan pikiran: “Gegayuhan nyawiji.” Semua lapisan masyarakat harus memiliki satu arah, satu rasa, dan satu tujuan, tanpa sekat-sekat golongan.
Namun, perjuangan ini harus didasari dua pilar utama: “Tata titi kawruh lan budi.” Kemajuan bangsa tidak hanya bergantung pada ilmu pengetahuan (kawruh) dan kecerdasan akal semata, melainkan juga pada ‘budi’ (kearifan, moral, karakter luhur) serta dilakukan secara terstruktur dan tertib (tata titi). Inilah keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.
Dengan fondasi ini, bangsa diharapkan “Teguh anggayuh cita,” gigih dan tak mudah menyerah dalam meraih tujuan nasional. Keteguhan ini harus diiringi dengan “Lan panggalih suci.” Hati (panggalih) yang suci dan bersih menjadi sumber kekuatan moral. Kemurnian niat akan melahirkan tindakan yang baik dan adil.
3. Nasionalisme Humanis di Era Modern (Gatra 8-10)
Pesan tentang nasionalisme humanis ditekankan pada gatra kedelapan: “Nresnani sesama bangsa.” Cinta dan kasih sayang terhadap sesama warga negara adalah wujud nyata nasionalisme sejati. Ini bukan hanya mencintai tanah air secara geografis, melainkan juga mencintai manusia yang menghuninya, tanpa memandang perbedaan.
Tembang ini juga menyentuh relevansi di era kontemporer: “Pinuju jaman anyar, ngugemi janji.” Bangsa kini berada di ‘jaman anyar’—era globalisasi dan digital yang penuh tantangan dan perubahan. Namun, di tengah semua itu, janji-janji luhur kebangsaan—kejujuran, gotong royong, dan tanggung jawab moral—harus tetap dipegang teguh (diugemi).
Puncaknya adalah definisi kemerdekaan sejati: “Mardika lan prasaja.” Kemerdekaan (mardika) tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari hawa nafsu, kebodohan, dan keserakahan. ‘Prasaja’ berarti hidup sederhana namun bermakna, mencerminkan budi luhur dan kebijaksanaan bangsa Jawa yang jauh dari kemewahan semu.
Filosofi Watak Dhandanggula: Nasihat yang Menentramkan
Watak Dhandanggula yang manis, luwes, dan agung membuat tembang ini sangat efektif dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan kebangsaan. Ia tidak membakar semangat dengan seruan keras, melainkan menuntun dengan nasihat yang lembut, bijaksana, dan meneduhkan. Ini mencerminkan nasionalisme gaya Jawa yang mengutamakan keharmonisan, budi pekerti, dan introspeksi.
“Dhandanggula, dengan kehalusan bahasanya, mengajak kita untuk ‘eling lan waspada’ — senantiasa ingat akan nilai-nilai luhur leluhur dan cita-cita bangsa, serta waspada terhadap godaan zaman yang dapat melunturkan jati diri.”
Penutup: Tembang Sebagai Penjaga Jiwa Bangsa
Tembang Dhandanggula “Bangsa Hywa Mukti” adalah bukti bahwa warisan sastra Jawa memiliki kekuatan abadi untuk menumbuhkan kesadaran dan jati diri. Ia mengajak kita merenungkan kembali esensi nasionalisme yang berlandaskan pada cinta tulus, kerukunan, pengetahuan yang dibarengi moral, serta kemerdekaan lahir dan batin. Di tengah tantangan zaman, tembang ini menjadi pengingat akan pentingnya mengugemi janji-janji luhur bangsa, demi tercapainya ‘rahayu’ dan ‘mukti’ yang sejati.
Baca Juga : Tembang Asmarandana: Pengertian, Makna, Struktur, dan Contoh Kreasi Modern Terbaru.





